Tampilkan postingan dengan label Wapera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wapera. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2014

Kenalan Yuk sama WAPERA, Komunitas Pendengar Radio.


Kerabat Muda, R-A-D-I-O. Selain lagu dan penyiar, satu hal lagi yang  identik dengan media ini adalah pendengarnya. Merekalah yang membuat radio terus semarak walau tergerus jaman. Dan bicara soal pendengar radio ini, ada satu hal yang unik. Yaitu,.... sebuah komunitas yang mewadahi para onliner di berbagai radio se-banyumas Raya. mereka menamakan diri mereka dengan Wapera. Warga Pendengar Radio.

Kerabat Muda, pastilah kalian sudah tidak asing dengan nama Wapera. Dalam beberapa program request, banyolan mereka saat online dengan penyiar kerap mewarnai dan membuat yang mendengar merasakan tak sanggup ikut melepas senyum. Wapera dan aktivitas online ibarat sepasang tangan. Dimana ada sesi online dibuka, maka ada wapera disana. Lalu bagaimana awalnya komunitas ini terbentuk ? Nah, berikut penuturan Pak Taka dan Arman Borokokok, selaku pengurus Wapera, yang berhasil ditemui team Komunitas Dot Com beberapa waktu lalu.


Wapera terbentuk sejak 9 Oktober 2007. Awalnya mereka bernama Banker's. Paguyuban Kerabat Ardi Lawet. Kelompok pendengar ini digagas oleh Tulus Pangudi, selaku penanggung jawab Ardi Lawet saat itu yang terbentuk Maret 2006. Namun baru berjalan beberapa bulan, aktivitas para anggotanya membuat banker's hanya aktif di udara. Kegiatan kopdar pun mulai sering ditinggalkan. Masa dormansi ini berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya Arman yang dikenal dengan nama onliner Borokokok mencoba memecah kebuntuan dengan membentuk komunitas yang baru pada Oktober 2007

“Setelah lama nggak ngumpul fans-fans banyak yang pengen gabung lagi. Dan karena nggak ngerti harus bagaiaman memulainya, saya nemuin Pak Taka yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua Banker’s, ceritane nglelesi lah, agar beliau mau ikut lagi mengumpulkan fnas biar silaturahminya nggak putus”, curhat Arman

Kenekatannya ini membuahkan hasil. Dibantu Pak Taka selaku pengurus lama, mereka membangun kembali sebuah komunitas pendengar yang lebih luas lingkupnya. Dan diberinama Wapera. Warga Pendengar Radio. Sebuah komunitas yang mewadahi para pecinta online program khusus dangdut dan campursari di berbagai radio se-Banyumas Raya. “Alhamdulillah, saat itu yang gabung banyak. Bahkan tidak hanya pendengar Ardi Lawet saja, tapi sudah sampai radio lain juga”, ungkapnya.

Dengan banyaknya fans berbagai radio yang bergabung, mereke sempat menambahkan nama Wapera menjadi Waperamas. Warga pendengar radio se-banyumas. Namun setelah dikaji ulang, diputuskan mereka untuk kembali menggunakan nama Wapera agar lebih universal. “Apalagi markas kami khan di Purbalingga, jadi kami memilih nama Wapera saja tanpa embel-embel –mas dibelakangnya”, ujar Pak Taka.

Keputusan ini dirasa cukup tepat. Mengingat kini anggotanya pun semakin melebar sampai ke wilayah Wonosobo. Dengan total anggota mencapai angka lebih dari 200 orang.


Nah, aktivitas merekapun kini tak hanya sekedar bertemu diudara. Wapera sudah memiliki agenda rutin. Sebut saja aktivitas sosial setiap ramadhan, baksos, touring dan yang pasti juga silaturahmi antar anggotanya. Dan mengingat anggotanya yang lintas kabupaten, tak heran jika pertemuan rutin yang digelar setiap 2 bulan sekali ini bisa saja berpindah-pindah kota. Hmmm, agenda mereka bisa dibilang sudah rapi ya? Lalu apa sih sebenarnya tujuan mereka membentuk Wapera ini ?

Ya, komunitas ini sudah tak lagi sekedar hiburan. Namun lebih menguatkan silaturahmi antar personelnya. Dimana personelnya ini merupakan gabungan dari par afans radio yang ada di wialyah Banyumas Raya. Setiap fans radio, akan memiliki koordinator masing-masing yang terus menjembatani keluh kesah para pendengar terhadap radionya. Koordinator ini dalam istilah Wapera disebut sebagai Koplak. Koplak ini diambil dari bahasa Jawa yang beranrti pangkalan atau terminal. Dan melalui koplak ini bermacam permasalahan yang biasanya menimpa para pendengar akan disampaikan kepada kepengurusan Wapera untuk dicarikan solusinya.

Yes, kita semua sepekat, radio tanpa pendengar ibarat kehilangan separuh jiwanya. Jika dalam dunia perdagangan dikenal istilah pembeli adalah raja, maka di dunia broadcasting ini, pendengarnya adlaah raja. Tak heran jika kemudian ketenaran para pendengar inipun seperti halnya si penyiar. NAh, kembali ke Wapera, komunitas yang diresmikan pada 9 Oktober 2007 ini kini terus melebarkan sayap dengan anggota yang sudah mencapai 200-an orang. Jika menghitung keseluruhan jumlah pendengar radio se-Banyumas, tentulah angka ini masih belum seberapanya. Mengapa bisa demikian ? Apakah ada pembatasan  usia dalam komunitas ini ? “Nggak sih, cuma mungkin karena onliner dewasa dan onliner muda jarang bisa ketemu di satu acara radio yang on air ya. Jadi sepertinya kami memang tidak kenal satu sama lain”, kata Arman

Wapera memang tidak pernah membatasi usia pendengarnya. Namun, aktivitas sebagai pendengar aktif pada program-program request dangdut dan campursari memang menjadi kendala untuk bisa mengumpulkan keseluruhan pendengar dalam satu wadah. Ya, benar sekali, onliner remaja memang lebih memilih ada di program lagu pop, onliner kritis akan memilih program talkshow atau news, sedangkan pendengar pasif biasanya tidak mau terikat dalam sebuah komunitas. Hal ini merupakan kendala terbesar bagi Wapera untuk bisa menyatukan pendengar dari berbagai kalangan. Namun mereka menyadari jika keterbatasan itu tidak untuk ditembus. Hal ini mengingat sampai sekarang belum ada program yang bisa menyatukan usia mereka dan usia remaja dalam satu program yang mereka inginkan.

Nah, kendala lainnya adalah ketika mereka harus kehilangan icon penyiar favoritnya. Penyiar ternyata punya pengaruh besar dalam rotasi komunitas pendengar. Penyiar yang pintar mengambil hati pendengarnya akan selalu diincar wapera. Ya, wapera memang akan secara otomatis scanning frekuensi radio pada pada jam-jam yang merek anggap sesuai. Jadi tak mengherankan jika mereka akan "ada" di program radio yang sama pada satu waktu.

Lalu bagaimanakah caranya untuk bergabung ? Ternyata mudah. Yang terpenting adalah sama-sama pendengar radio.  Namun merekapun tidak menutup kemungkin seseorang diluar dunia radio untuk bergabung. Karena mereka juga rutin menggelar aksi sosial. Uniknya, meski sudah berusia tujuh tahun (perayaan ulang tahunnya akan digelar 19 Oktober 2014 besok lho) , Wapera tidak pernah menerapkan iuran wajib bagi anggotanya. Seluruh kegiatan sosial bersifat accidental dalam pengumpulan dana. Hal ini dikarenakan, mereka menaydari jika penedengar radio bersifat dinamis. yang keaktifannya tidak dapat dipastikan.

Jika sebelumnya Wapera memutuskan untuk tidak membuat satupun akun sosial media terkait komunitas sini. Namun perkembangan teknologi memang tak bisa dihindari. Kini mereka pun memanfaatkan facebook sebagai salah satu sarana promosi dan inforasi kegiatan mereka. Terpenting tujuan agar niatan awal meramaikan sebuah program siar radio tidak tergantikan.

Mau gabung juga ? Boleh banget. Dapatkan info lebih lengkapnya di Sekre Wapera : Dusun 3 Gembong RT 12, RW 6 Bojongsari Purbalingga. Sedangkan untuk aktivitas “kongkow”, mereka memilih kediaman Pak Taka (Bakmi Sunar) yang berada di Kompleks Alun-alun Purbalingga.

(ditulis oleh Anita Pithaloka)

Senin, 10 Maret 2014

1 DEKADE ARDI LAWET FM

Untaian kalimat syukur tak henti-hentinya dipanjatkan seluruh crew LPPL Radio Ardi Lawet FM. Karena tak terasa, perjalanan kami di udara telah sampai juga pada angka 1 dekade.

"Sudah dua angka, ibaratnya kami sudah bukan lagi anak kecil yang terus menerus disuapi orang tuanya. Harapan kami, Ardi lawet bisa terus menjadi media yang tumbuh berkembang bersama masyarakat dan ikut mengawal pembangunan kota ini", ungkap Bangun Eni Mulyanti, koordinator LPPL Ardi Lawet FM.

 Nasi tumpeng ini asli lho buatan para punggawa siar yang cewek

 Drs. Yonathan Eko Nugroho, M.Hum saat pemotongan tumpeng didampingi koordinator radio

Dalam tasyakuran sederhana yang diadakan di halaman radio, tampak sejumlah Kerabat Ardi Lawet, teman-teman Komunitas Band Indie Purbalingga serta Komunitas Oi Purbalingga  hadir memeriahkan acara ini. Tak ketinggalan para peserta Lomba Penyiar Pelajar (LPP 2014) juga terlihat menunggu hasil pengumuman pemenang lomba. 

  Para pemenang LPP 2014

Teman-teman dancer pelajar yang ikut memanaskan suasana lewat "pokoke joged"

Salah satu band indie pengisi acara

Teman-teman Oi



Sementara itu, Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Purbalingga, Drs. Yonathan Eko Nugroho, M.Hum pun turut mengungkapkan harapannya pada radio FM pertama di Purbalingga ini. Selain sebagai sarana hiburan dan informasi, radio sudah semetinya juga mampu menjadi sarana penyalur kritik masyarakat terhadap pemerintahnya. “Kepada warga masyarakat dipersilahkan untuk menyampaikan kritik yang membangun segala kebijakan pembangunan  yang dilaksanakan oleh pemkab secara umum serta dalam batas-batas kewajaran. Melalui radio masyarakat diharapkan berpartisipasi guna mendorong atau mendukung segala program-program pemerintah di berbagai bidang,” pinta Yonathan.

Kadinhubkominfo Kab. Purbalingga


Terima kasih kepada seluruh pendukung acara :
- Wapera
- Yamaha Nusantara Motor Purbalingga
- Kampoeng Steak
- Bangjo Caffee
- Family Campus Fried Chicken
- Power Tronik
- Sulthan Milk
- Satelit Post
- dll

Gallery :

Wapera

Kebayang kan bagaimana hebohnya para punggawa siar berebut tumpeng

Beginilah jaimnya para punggawa siar saat bersama Kadinhubkominfo

Ki-ka : Bagus, Yoga, Andin, Laras, Rani, Pitha, Dimas

*big thank's untuk Mas Cahyo Radar Banyumas untuk beberapa jepretannya.